Monday, October 31, 2011

Here It is.. :D

I want to live my life to the absolute fullest
to open my eyes to be all i can be
To travel roads not taken
to meet faces unknown
to feel the wind
to touch the stars
i promise to discover my self
to stand tall with greatness
to chase down and catch every dream
Life is An Adventure

-Advertisement of Nutrilon-
If you've set your mind to it
and got it like it is do or die
How could there not be a way?

Intelektual bukan berasal dari jawaban..
tapi dari pertanyaan..

-Sungkyuhwan Scandal-
God will make a way where 
there seems to be no way

Ada Cinta

Buat nambah-nambah postingan lah..haha,
dan nemu cerita pendek yang saya buat waktu SMA,
saya masih inget waktu itu ada tugas bahasa indonesia untuk ngebuat cerpen..
dan..tadaaaaaa, jadilah cerpen ini..
aga kaget sih wkt saya baca ulang lagi..
kenapaaa akhirnya seperti ini, haha.. --'
well...this is just a fiction story..
nama-nama dan kejadian dalam cerita ini hanyalah fiksi belaka,
Happy reading and take the implicit message.. :)


ADA CINTA

            “Please, maafin gue, May,” bisik Dian lirih setelah setengah jam lebih kesunyian melanda kamar Maya yang hanya ada mereka berdua. Maya diam. Hatinya terlalu sakit untuk berbicara. Diremasnya bantal mickey kesayangannya dengan kuat. Ia duduk di atas kasurnya dengan badan membelakangi Dian. Rasanya ia tak sudi melihat wajah pengkhianat itu. Samar-samar ia mendengar hembusan berat napas Dian yang gelisah. Ah…tapi Maya tak peduli.
            “Hati gue sakit, Dian! Terlalu sakit malah. Dan kesalahan lo itu terlalu sulit untuk gue maafin dengan mudah,” rintih Maya dalam hati.
            “Maya…please, ngomong sesuatu ke gue. Terserah lo mau maki-maki gue, lempar gue, ludahin gue, atau…bunuh gue kalo perlu. Tapi, please…say something! Gue tambah ngerasa bersalah kalo terus lo diemin kaya gini. Bantu gue…., Bantu gue buat nebus semua kesalahan gue. Bantu gue buat nyari jalan keluar atas semua ini. seenggaknya gue bisa tau apa yang mesti gue perbuat,” Dian memohon dengan nada berat. Dadanya sesak karena tangisan yang tertahan.
            “Ahh..entahlah, Di. Gue gak tau apa yang mesti gue lakuin. Kesalahan lo itu udah stadium empat. Parah. Dan ada jutaan pertanyaan kenapa yang ada di pikiran gue saat ini. Kenapa? Kenapa lo yang harus jadi pengkhianat itu? Kenapa??” Maya tak bergeming. Diremasnya bantal mickey itu dengan lebih kuat. Hatinya sesak oleh teriakan-teriakan yang tak mampu ia ucapkan. Ia tak mampu dan tak mau berbicara sepatah kata pun untuk saat ini pada Dian.
            “May..,” terdengar isakan pelan Dian. “Gue cape. Udah sebulan lebih lo diemin gue. Dan itu ngebuat gue sakit. Gue gak mau kita gini terus. Lo tau, May? Tiap malem gue nangis. Tiap malem gue nangis karna kesalahan gue yang….jujur gak bisa gue hindari. Tiap malem gue nangis karna gak bisa nemuin solusi apa yang mesti gue perbuat,” tangisan Dian pecah.
            “Gue juga kaya gitu, Di!Tiap malem, tiap hari malah, gue nangis sampe berdarah-darah karna perbuatan lo itu. Tiap hari gue nangis sampe mata gue bengkak segede gajah. Tiap hari gue nangis karna gue nyeselin semua yang terjadi. Tiap hari gue nangis karna…kenapa mesti lo?? Agh…,” butiran air mata tak mampu dibendung lagi oleh mata hitam Maya. Tak tahan rasanya ia ngelewatin semua ini. Maya menangis dalam diam. Kesunyian kembali menguasai kamarnya yang mungil. Sesekali hanya terdengar isakan tangis berat Dian. Detak jarum jam yang lebih jelas terdengar seperti nyanyian lagu sakit hati bagi Maya. Andai ia bisa mengulang kembali waktu. Ingin rasanya ia perbaiki semua yang nyebabin masalah ini terjadi. Tapi ia gak bisa. Dan saat ini ia harus hadapin semua itu. Berat.
            “ Maaf, May…,” Dian kembali memecahkan kesunyian dengan kata maafnya. Diusapnya air mata yang berebut keluar dari bola matanya. “ Maaf kalo gue cinta sama Radit,”
            “......” Maya mendengus perlahan.
            “ Maaf kalo gue ngehianatin lo. Gue gak bisa ngebohongin hati gue sendiri. Dia selalu ada saat gue butuh. Dia selalu ngehibur gue. Gue udah berusaha ngilangin semua perasaan gue. Tapi, gua gak bisa. Gue gak bisa nyangkal klo cinta itu memang….ada,” Dian menunduk merasa bersalah. Air matanya terus mengalir deras.
            Perasaan Maya kembali tersayat. Memorinya kembali teringat pada peristiwa sebulan yang lalu. Ketika Dian mengucapkan kalimat yang sama untuk pertama kalinya. Dan itu ngebuat perasaannya hancur. Ya..Radit lah yang menjadi masalah dari semua ini. Radit, teman satu kuliah yang beda jurusan dengannya. Cowo yang Maya kenal ketika ia pertama kali naik ke tingkat tiga, tiga bulan yang lalu. Maya pertama kali mengenal Radit ketika ia menjadi panitia pensi dimana Radit merupakan salah satu pengisi acaranya. Pada pertemuan pertama itulah Maya langsung suka pada perhatian dan tampang Radit yang manis. Baginya Radit adalah sosok cowo yang sempurna. Ia merasa nyaman ketika ada di dekat Radit. Awalnya, Maya mengira kalo Radit juga naruh perasaan yang sama pada dirinya. Ia merasa Radit menaruh perhatian yang berbeda pada dirinya. Radit juga selalu ada saat Maya butuh bantuan. Tapi, Maya kini sadar ada sesuatu hal yang membuat Radit ngelakuin semua itu pada dirinya. Dan hal itu adalah Dian. Sakit.
“Jujur, May. Pada saat itu gue ngerasa jadi orang yang paling munafik. Saat lo dengan antusias nyeritain semua hal tentang Radit. Saat lo ngomong klo lo..suka sama Radit. Pada saat itu pula gue ngerasa bersalah dan tersiksa. Satu sisi, gue sangat seneng lo udah nemuin kebahagiaan lo. Awalnya gue berharap Radit bisa jadi yang terbaik bagi lo. Gue harap cinta lo ke Radit bisa ngebuat lo bahagia. Tapi…” Dian terdiam sejenak. Ia mencoba untuk mencari kata yang lebih tepat.
            “Tapi lo juga cinta dia kan?! Elo cinta Radit kan, Dian?! Gila..!!”
            Dian menarik napasnya panjang. “Tapi…semakin hari gue semakin bimbang dengan perasaan gue. Semuanya berjalan tanpa gue sadari. Dan akhirnay gue nyadarin satu hal, May. Gue sadar kalo gue ternyata gak bisa kehilangan Radit. Gue sadar kalo ternyata gue juga…cinta sama Radit.” Tangis Dian meledak. “Maaf, May..,Maaf,”
            Ingin rasanya Maya berbalik dan menampar Dian. “maaf? Ini bener-bener pukulan berat bagi gue. Kenapa mesti lo sih?? Ya Tuhan…gue bener-bener gak percaya lo bisa ngehianatin gue seperti ini. kenapa mesti lo??lo yang…..ahhh” dada Maya sesak oleh campuran perasaan marah dan kesal. Linangan air mata terus mengalir di kedua pipi mulusnya.
            “Gue juga makin gak bisa ngehindar, May. Saat gue tau kalo ternyata…Radit juga..cinta sama gue. Gue tau lo masih cinta sama Radit. Gue tau masih sulit bagi lo tuk ngelepasin Radit. Tapi kalo kenyataanya Radit milih gue, apa gue harus nolak kalo kenyataannya gue juga….ngerasa hal yang sama?” ujar Dian dengan napas tercekat.
            Kepala Maya makin pusing. “Lo gak ngerti apa yang lo ucapin, Di!!”
            “Cuma Radit yang bisa nerima gue apa adanya, May. Cuma Radit yang bisa nerima kekurangan gue. Gue juga sadar kalo gue gak bisa sembunyi terus dari kenyataan. Gue sadar gue gak bisa terus bohongin lo. Suatu saat nanti, lo pasti dan emang harus tau apa yang sebenarnya terjadi. Walaupun gue tau ini nyakitin lo, tapi lo harus tau, May,” Dian menghela napas panjang.
            “ Gue ngelakuin ini semua karna walau bagaimana pun gue juga masih ngehargain lo sebagai kakak gue, May. Sebagai satu-satunya keluarga yang masih gue miliki. Dan gue sayang sama lo.”
            Hati Maya teriris perih. Dian memang satu-satunya keluarga yang masih ia miliki. Adik yang masih ia punya setelah kecelakaan yang menewaskan kedua orang tua mereka tiga tahun yang lalu. Dian memang orang yang paling terguncang atas peristiwa itu. Semenjak peristiwa itu, kebahagiaan seolah-olah pergi dari kehidupan Dain. Dan Maya memang nyadarin satu hal. Kehadiran Radit sepertinya memberikan setitik senyuman pada Dian. Sebenarnya ia tak tega. tapi kenapa harus Radit?
            Air mata Maya mengalir semakin deras. Ia tak tau harus berbuat apa. Semuanya terasa menyakitkan baginya. Maya mendekap erat bantal mickeynya yang sudah basah oleh air mata. Terlintas dalam bayangannya semua peristiwa yang terjadi. Kecelakaan orang tuanya, hari-hari kelabu yang ia lalui bersama Dian, perjuangannya untuk terus bisa hidup mesti mereka berdua sudah menjadi yatim piatu, dan yang paling menyakitkan hatinya adalah hubungan Dian, adiknya, dengan Radit, cowo yang selama ini ia idam-idamkan. Semuanya berlalu dengan sangat cepat. Walau bagaimana pun ia tak bisa ngebiarin semua ini terjadi tanpa penyelesaian yang jelas. Sebagai seorang kakak, ia harus melindungi Dian. Maya mulai menata kembali hatinya yang hancur. Ia mengusap air mata yang mengalir di kedua pipi mulusnya. Ia harus tegar dan tegas. Walau bagaimana pun, dalam hidup, harus ada yang di korbankan. Maya berbalik. Ia mendekati adik semata wayangnya. Digenggamnya tangan Dian yang dingin. Ia menatap wajah Dian yang tampak semakin lelah. Rambutnya tak beraturan dan matanya sembab karena terlalu sering nangis. Mukanya semakin tirus dan cekung. Bibirnya gemetar karna menahan tangis. Pertahanan Maya hampir roboh melihat keadaan Dian. Tapi keputusannya sudah bulat.
            Dian menunduk dan mengiba. “ Maafin gue,May..,” Ia mulai menangis lagi.
            Ahh…Dian,” rintih Maya dalam hati, “Terlalu banyak hal yang udah kita lewatin bersama. Kita berdua udah bersama-sama ngelaluin semua hal yang manis dan pahit berdua. Bagi gue, elo bukan hanya sekedar adik yang berasal dari satu rahim dan tumbuh bersama gue. Bukan hanya sekedar telinga yang ngedengerin semua curhat gue ataupun tangan yang siap ngebantu gue. Bagi gue, elo adalah segalanya. Gak ada yang bisa ngedefinisiin elo sebagai orang yang paling berharga bagi gue di dunia ini. Dian, gue udah janji sama ortu kita untuk selalu ngelindungin dan ngebimbing lo. Walaupun jujur gue gak bisa nerima dan ngemaafin dengan mudah kesalahan lo yang ini. Karena ini sangat nyakitin gue dan gue takut semua ini akan balik nyakitin lo juga. Dian, gue tau semua ini sangat berat buat lo lewatin. Gue juga tau perasaan lo ke Radit juga sangat nyakitin hati lo. Gue tau lo juga ga mau semua ini terjadi. Gue tau lo ga mau ni nimpa lo dan nyakitin gue. Karna gue tau lo sayang sama gue,” Maya menarik napas panjang. Dibelainya rambut Dian dengan penuh kasih sayang. Diusapnya air mata Dian dengan perlahan. Muka Dian sudah terlihat makin kusam dan gelap. Bulu-bulu halus kembali tumbuh di atas dan bawah bibirnya.
            Dian…gue sayang banget sama lo. Dan gue gak mau lo sakit lebih dalem lagi. Dian, Aldian Putra Dewantara, mungkin udah saatnya gue ngambil keputusan,”
            Maya menatap adik lelakinya yang sedang diliputi berjuta perasaan bersalah. Maya kembali menarik napasnya panjang. Keputusannya sudah bulat.

Monday, October 17, 2011

Lebih Hangat

 tiba-tiba nemu ini..
yang saya buat..yaaaa, kira2 pas zaman SMA,hehe
enjoy.. :)

seorang anak lelaki berumur 8 tahun berlari menembus badai salju di malam yang buta..
waktu telah menunjukkan pukul 09.00 malam..
tak ada seorang pun yang berhasrat keluar rumah,
cuaca yang ekstrim membuat mereka memilih tidur meringkuk di atas selimut yang tebal..ato dudukk di depan perapian hangat dengan ditemani secangkir coklat atau susu..

anak itu terus berlari..
napasnya yang sesak karna lelah,tak ia pedulikan..
badannya yang menggigil karna kedinginan tak ia hiraukan..
padahal..tubuhnya hanya dibaluti selembar kaos yang lusuh..

akhirnya ia tiba di sebuah rumah reot mungil..
masuklah ia dengan segera ke dalam gubuk yang tak berbentuk..
dilihatnya sesosok wanita renta yang termenung dalam tusukan rasa dingin..
badai salju membuatnya beku..
karna tak ada perapian ataupun selimut tebal..
untuk mengurangi rasa dinginya,ia menutupi tubuhnya dengan sebungkus kardus yang -entahlah- ia temukan di jalanan..
tapi..sebenarnya, kardus ia tak berpengaruhh banyak untuk mengurangi tusukan dinginnya..
tapi kau tau??
terkadangg sugesti itu lebih kuat daripada apa yang sebenarnya dirasa.

anak itu pun menghampiri ibunya..
ibunya kaget dengan tingkah anaknya yang seperti dikejar maling..(?), tapi..ia pun menyambutnya dengan tersenyum..
"kau sudah pulang anaku??"
tanyanya pelan..
anak itu menggangguk cepat..
dengan bibir yang masih gemetar, ia berkata..
"ibunda..tadi aku bertemu dengan orang yang baik hati"
ia berbicara dengan cepat,,seakan tak mau disela oleh perkataan ibunya..
ia pun mulai bercerita..
"saat ia melihatku dijalan sendirian dan kedinginan, ia mengajaku pergi ke rumahnya..dan kau tau,ibu?rumahnya besar dan hangat.."anak itu bercerita dengan semangat..
"ia memintaku untuk menginap di rumahnya walaupun untuk semalam. ada kamar yang indah, susu yang maniss dan perapian yang hangat di sana"
"tapi..."
anak itu mulai memelankan suaranya..
"tapi, aku menolak dan memilih untuk pergi"
anak itu terdiam untuk beberapa lama...
ibunya tersenyum..dan berkata dengan suara yang lemah..
"kenapa,nak?bukankah di sana sangat hangat?"
sang anak menggeleng dengan cepat..
"tidak,bu.."
ia pun memeluk sang bunda..
"disini lebihh hanggattt...."
--------------------

Tumpah Ruah

Tuhan..
bolehkah aku mengeluh??
aku bukan mengeluh krna menyerah, tp ak mengeluh karena lelah..
Tuhan..
Bolehkah ak mengeluh?
krna semua telah menjadi sulit, ataukah ak yg hanya berlagak sulit?
Tuhan..
bolehkah aku mengeluh?
setelah semua kerja keras, rasanya berat memasuki dunia baru,
belum pantaskah itu untukku? lantas beritahulah ak apa yg hrs diperbaiki,
Tuhan..
bolehkah ak mengeluh?
setelah semua percobaan dan senyum pura-pura di hadapan semua org,
bolehkan aku menangis dlm sendiri?
Tuhan..
bolehkah aku mengeluh?
setelah semua mimpi yg ingin aku gapai, begitu sulit..
di saat ak ingin terbang dan sayap hilang entah kemana, tertinggal dlm tempat yg entah d mana..
Tuhan..
sesungguhnya aku lelah,
bukan lelah krna aku,
tp lelah krna mereka pun hrs menunggu,
lelah krna aku tak tega mereka harus menunggu,
Tuhan..
bolehkah aku mengeluh??
mengeluh karna mengapa syukur dan ikhlas jg begitu sulit..
Tuhan..
buatlah aku jgn mengeluh..
buat aku berusaha lebih keras,
buat aku lebih bersyukur..
dan buat aku lebih ikhlas..
Tuhann..
buatlah aku jgn mengeluh..
bangkitkan aku seberapa kali pun aku jatuh,
sadarkan aku seberapa kali pun aku gagal,
kuatkan aku seberapa kali pun aku kembali jatuh dan mencoba..
Tuhan..
sunggguh, aku tak ingin mengeluh..